Arkha duduk tak jauh dari Rira, mengamati wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Selama ini, ia hanya bisa memendam perasaan karena tidak ingin ada konflik dengan Banu, adiknya yang juga menyukai Rira. Namun, sejak Banu kehilangan nyawanya, yang juga menyebabkan kematian tragis Mochi, Arkha merasa ada sesuatu yang belum tersampaikan. Rasa bersalah terhadap Lala, ditambah kesibukannya membantu mengurus Aliah, telah mengalihkan perhatian yang biasanya ia berikan kepada Rira.

Melihat Rira yang sedang melamun sambil memeluk lutut, Arkha mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya. Ia tahu, mungkin waktu mereka tidak banyak lagi. "Rira, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian.

Rira mengangkat kepalanya perlahan. Kepalanya terasa pusing akibat benturan keras saat mereka dijatuhkan oleh Monrest ke dalam cekungan. Ia berusaha tersenyum meskipun lelah dan sakitnya terlihat jelas. "Aku baik-baik saja," katanya dengan nada berusaha tegar. "Hal seperti ini tidak ada apa-apanya bagiku."

Arkha mengamati wajahnya sejenak, merasa ragu apakah ia harus melanjutkan. Namun, tekadnya sudah bulat. "Rira, jika kita selamat... jika kita bisa melewati semua ini," katanya, nadanya sedikit bergetar, "aku ingin selalu menjagamu."

Rira menatap Arkha dengan mata yang menunjukkan sedikit keterkejutan. Arkha adalah salah satu pria paling populer di kalangan para wanita, seperti halnya Karim, Narendra, Kael dan tentunya kepala suku mereka Lynx. Rira sudah lama mendengar gosip tentang Arkha yang menyukainya, tetapi hatinya sudah tertambat pada seseorang. Meski begitu, ia menghormati Arkha sebagai sosok yang baik dan peduli pada banyak orang. Arkha adalah pemuda terkuat di suku Raksa.

Rira hanya tersenyum kecil, lalu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Arkha. "Aku berharap kita bisa melalui ini semua," bisiknya pelan, tidak ingin memberikan jawaban yang menyakiti Arkha, tetapi juga tidak ingin memberinya harapan palsu.

Arkha tersenyum tipis, meski di dalam hatinya ia tahu bahwa Rira tidak membalas perasaannya. Ia sudah lama menyadari bahwa Rira menyukai Lynx. Tapi Arkha juga tahu bahwa Lynx hanya memiliki Leena di hatinya. Meski begitu, Arkha tidak ingin menyerah. Ia akan terus berusaha mendapatkan hati Rira selama mereka masih diberi kesempatan hidup.

Arkha memalingkan pandangannya ke sekitar. Ia melihat Jelita duduk bersama keluarganya—tetua Ayunga dan ibunya. Mereka terlihat berusaha saling menguatkan di tengah situasi yang mencekam. Tidak jauh dari sana, Kael tampak sibuk mencoret-coret sesuatu di tanah. Arkha memperhatikannya sejenak, menyadari bahwa Kael mungkin sedang memikirkan strategi untuk meloloskan diri atau mencari kelemahan formasi yang dibuat oleh pasukan Monrest.

Meskipun suasana di cekungan dipenuhi keputusasaan, di beberapa sudut, masih ada tanda-tanda kehidupan yang mencoba bertahan. Namun, Arkha tahu bahwa waktu mereka semakin menipis.

Arkha mendekati Kael dengan langkah penuh tekad. Dia lebih memilih mati berjuang daripada harus mati dibunuh tanpa perlawanan. "Kael, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu memiliki sebuah rencana?" tanyanya dengan antusias, suaranya penuh harapan.

Leena yang melihat Arkha mendekati Kael segera mengikuti, diikuti oleh Karim, Narendra, dan Lala.

"Katakan, Kael. Kamu yang paling berpengalaman dalam bertempur," kata Lala, nada suaranya memohon. "Kita tidak bisa hanya menunggu."

Kael menoleh ke arah mereka semua, terlihat lelah dan frustrasi. Dia menggelengkan kepala perlahan. "Aku sudah memikirkan berbagai macam strategi," katanya dengan nada rendah, "tapi tidak ada satu pun yang cukup kuat untuk menyelamatkan kita. Kekuatan yang ditunjukkan oleh Leluhur Monrest... itu di luar jangkauan kita. Kita tidak mungkin melawannya."

"Aku percaya padamu, Kael. Kamu pasti bisa menemukan cara," kata Rira, suaranya penuh tekad. "Aku tidak mau mati begitu saja tanpa melawan. Aku ingin menunjukkan perlawanan, meskipun kecil."

Arkha mengepalkan tangannya erat-erat. "Benar! Kita harus melawan, apa pun itu risikonya."

Namun, sebelum Kael sempat menjawab, percakapan mereka tiba-tiba terhenti oleh pemandangan yang mengejutkan. Leena terlihat melayang perlahan di udara, tubuhnya terangkat oleh kekuatan tak kasat mata.

"Leena!" teriak Lala dan Arkha bersamaan. Refleks, mereka melompat untuk meraih tangan Leena yang terulur, mencoba menahannya. Kael, Narendra, dan Rira ikut bergerak cepat, mencoba menahan kaki Leena agar dia tidak terbang lebih tinggi. Namun, kekuatan yang mengangkat Leena jauh lebih besar daripada yang bisa mereka lawan. Tubuh Leena terus terangkat, perlahan meninggalkan cekungan.

Dari atas, Leluhur Monrest melayang dengan anggun, tatapannya tajam seperti elang yang mengincar mangsanya. "Aku melupakanmu, gadis kecil," katanya dengan nada dingin, wajahnya menyiratkan rasa puas. "Kamu punya tugas lain untukku."

Leena yang terikat oleh kekuatan itu mencoba melawan, tubuhnya berontak keras. "Lepaskan aku! Lawan aku secara langsung jika kamu berani!" teriaknya dengan marah, meski ia tahu perlawanan itu sia-sia.

Namun, Leluhur Monrest hanya tertawa kecil, mengabaikan tantangannya. Dia menggerakkan tangannya, dan tubuh Leena terangkat lebih cepat, menjauh dari cekungan.

Di bawah, para penduduk Surya yang melihat Leena terbang mulai panik. Mereka berdiri, meneriakkan protes dan permohonan. "Lepaskan dia!" teriak seseorang. "Tolong, jangan sakiti dia!" seru yang lain dengan suara putus asa.

Suara teriakan itu semakin keras, menggema di seluruh cekungan. Orang-orang melompat, mencoba mencapai Leena meskipun mereka tahu itu mustahil. Tangis dan amarah memenuhi udara. Di antara mereka, Lala menangis tanpa suara, sementara Arkha menggigit bibirnya dengan frustrasi. Kael dan Narendra hanya bisa memandang dengan tatapan dingin yang menyimpan rasa tidak berdaya.

Leena menatap ke bawah, melihat wajah-wajah yang dia cintai dan berusaha lindungi. Dengan napas berat, dia berkata dalam hatinya, "Aku akan bertahan. Aku harus bertahan, apa pun yang terjadi."

“Gadis kecil, aku tahu kamu bukan dari dunia ini. Aroma tubuhmu sangat berbeda, kamu memiliki tubuh spiritual legenda,” ujar Leluhur Monrest, suaranya rendah namun penuh nada mencemooh. Tangannya yang dingin mengelus wajah Leena dengan perlahan, membuat gadis itu merasa muak.

“Lepaskan aku!” maki Leena dengan nada penuh amarah. Dia tidak memperhatikan lagi kata-kata leluhur Monrest mengenai tubuh spiritual. Ia mencoba menendang pria tua di depannya, tetapi tubuhnya tidak mampu digerakkan, seperti terikat oleh kekuatan tak kasat mata.

“Melepaskanmu?” Leluhur Monrest tertawa kecil. “Kamu adalah alat yang sempurna untukku. Dengan darahmu, ditambah kristal iblis makhluk naga itu, aku akan semakin kuat. Tak ada yang bisa menghentikanku.”

Leena menatapnya dengan penuh kebencian. “Naga? Apa kamu pikir bisa mengalahkan makhluk itu? Aku sudah melihatnya langsung, dan aku tahu kalian di masa lalu tidak sanggup menghadapinya,” katanya, nada suaranya penuh sindiran.

Tatapan Leluhur Monrest berubah tajam. Namun, dia tetap tersenyum sombong. “Kamu cukup berani, gadis kecil. Dulu, kekuatan kami memang tidak cukup untuk menghadapinya. Tetapi sekarang...” Ia menoleh ke batu meteor besar di sampingnya. “Dengan kekuatan ini, naga itu tidak ada apa-apanya. Batu meteor ini adalah sumber kekuatan sejati.”

Dengan satu gerakan tangan, Leluhur Monrest menciptakan tali-tali energi yang bergerak seperti ular. Tali itu dengan cepat mengikat tubuh Leena ke sebuah tiang besar, membuatnya tak bisa bergerak. Leena menggigit bibirnya, menahan rasa frustrasi dan amarah. Harapannya perlahan memudar, tetapi ia tetap berusaha mencari celah untuk melawan.

Leluhur Monrest turun dari tempatnya terbang dan berdiri di samping batu meteor. Ia melambaikan tangannya dengan anggun. “Saatnya tiba. Semua pasukan, masuk ke dalam formasi!” perintahnya, suaranya menggema seperti guruh.

Seluruh pasukan Monrest, termasuk Damon, segera mengambil posisi sesuai garis-garis formasi yang telah digambar. Leluhur Monrest berdiri di pusat formasi bersama batu meteor raksasa, penuh percaya diri. “Sebentar lagi, kalian akan mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa!” serunya. “Dengan kekuatan itu, kita akan menghancurkan seluruh dimensi!”

Para prajurit yang mendengar itu langsung bersorak dengan penuh semangat, meneriakkan kalimat yang menggema di seluruh area. “Jaya Leluhur Monrest! Kuasai seluruh dimensi!”

Di cekungan, para penduduk Suku Surya berdiri dengan wajah suram. Mereka tahu, ini mungkin akhir dari segalanya. Beberapa menunduk, berdoa dalam hati, sementara yang lain hanya berdiri pasrah, menunggu ajal menjemput.

Leluhur Monrest mulai menggerakkan tangannya, menciptakan formasi yang rumit di udara. Cahaya merah menyala dari setiap gerakan jarinya, menggambar pola-pola besar yang segera melayang ke langit. Pola itu membesar, sebanding dengan formasi yang telah dibuat di tanah. Energi di sekelilingnya berdenyut seperti jantung yang berdetak, mengisi udara dengan tekanan yang hampir tak tertahankan.

"Setelah mengorbankan darah penduduk, maka batu-batu formasi akan aktif." Leluhur Monrest tertawa puas, tangannya perlahan menyentuh permukaan batu meteor raksasa di sampingnya. “Akhirnya... Akhirnya batu meteor ini akan memberikan kekuatan sejatinya...”

Namun, saat tangannya menyentuh permukaan batu, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tubuh Leluhur Monrest tiba-tiba menegang, matanya membelalak. Suara berderak tajam terdengar, dan batu meteor yang kokoh mulai pecah menjadi abu, runtuh dalam sekejap mata.

Seluruh pasukan Monrest yang melihat kejadian itu terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Suasana yang penuh sorak-sorai berubah menjadi keheningan mencekam. Batu meteor raksasa, yang menjadi pusat kekuatan dan ritual mereka, lenyap begitu saja.

Leluhur Monrest menatap tangan kosongnya, ekspresi keterkejutan bercampur amarah terpampang jelas di wajahnya. “Tidak mungkin...” katanya pelan, suaranya penuh ketidakpercayaan. “Batu meteor ini... mustahil...”

